Tahura Sultan Adam Mandiangin

Luas lebih kurang 2000 Ha sebagian terdiri dari kawasan Hutan Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat, tempat dimana bukit Mandiangin, bukit besar, gunung pandamaran, gunung Pamaton dll More »

Sunset Bukit Batu Besar

View dikala matahari terrbit dari puncak Bukit Besar Tahura Sultan Adam Mandiangin More »

Sisi Bukit Batu Besar

View sisi Bukit Batu Besar di pagi hari dimana masih tampak sebagian besar alang-alang sebagai tantangan kami untuk menggantinya dengan hijauan baru berupa pepohonan More »

Sungai Mandiangin

Sungai utama di kawasan Tahura Sultan Adam Mandiangin. Di sungai ini terdapat air terjun Mandiangin sebagai obyek yang sering dikunjungi oleh pengunjung Tahura Sultan Adam More »

Sungai Kahung

Sungai yang terdapat di hutan lindung Riam Kanan sebagai bagian dari kawasan Tahura Sultan Adam. Sungai ini sangat menawan sayangnya masih cukup jauh untuk dijangkau oleh wisatawan pada umumnya. More »

 

WISATA SEJARAH BENTENG BELANDA MANDIANGIN

Bagi anda yang suka berwisata sejarah, jangan lewatkan situs sejarah yang ada di Kalimantan Selatan, yaitu Benteng Belanda Mandiangin yang terletak di dalam kawasan wisata Taman hutan Raya (TAHURA) Sultan Adam di daerah Mandiangin Kecamatan Karang Intan Kab. Banjar.  Lokasi wisata ini biasa kita tempuh dari Banjarbaru ± 15 km biasa ditempuh dengan mobil atau sepeda motor.

Benteng Belanda ini dibangun di atas puncak Bukit Besar di tengah hutan rimbun Kalimantan, selama perjalanan menuju puncak kita akan melewati jalan yang berkelok kelok menanjak yang dikiri kanan jalannya disuguhi jurang terjal dan pemandangan yang membuat kita kagum dengan keindahan pemandangan gunung mandiangin sampai terlihat waduk Riam kanan dikejauhan.

Situs pertama yang kita jumpai adalah kolam Belanda dengan airnya yang jernih sehingga sangat segar untuk mandi dan berendam, sebab air kola ini berasal dari mata air bukit besar yang asri

Kemudian kita naik kepuncak bukit melalui jalan aspal berliku dan menanjak, kurang lebih 2 km kita akan sampai di situs tujuan, bangunan bekas peninggalan jaman Belanda ini berada tepat dipuncak bukit besar.

B.J Haga mengunjungi Mandiangin (wijn baden) 26 februari 1939

Situs yang selama ini dianggap Benteng Belanda adalah merupakan tempat peristirahatan atau pesanggrahan para pejabat Belanda pada zaman penjajahan. Pesenggarahan ini diresmikan oleh  Gouverneur van Borneo Dr. Bauke Jan (B.J) Haga pada tanggal 26 Februari 1939.

Mengenai Bentuk bangunan tempat peristirahatan/pesanggrahan didominasi oleh bahan dari kaca meniru bentuk bangunan salah satu rumah sakit yang berada di atas puncak gunung di pulau jawa.

Karena letak tempat peristirahatan/pesanggrahan berada di puncak Bukit Besar yang posisinya lebih tinggi dari tempat-tempat lain yang ada disekitarnya maka tempat peristirahatan/pesanggrahan tersebut juga berfungsi sebagai tempat untuk memonitor pergerakan musuh sekaligus tempat perlindungan/benteng.

Bangunan Benteng Belanda terdiri dari 7 (tujuh) bagian bangunan, terdiri dari : 3 (tiga) buah rumah peristirahatan (huis bahasa Belanda)  yang didalamnya dilengkapi masing-masing kolam/tandon  untuk menampung air hujan, 1 (satu) buah garasi mobil, 1 (satu) buah lapangan tenis (tennisbaan), 1 (satu) buah tempat bermain anak dan 1 (satu) kolam renang.

 

Garasi yang ada di Bukit Besar

Runtuh/rusaknya bangunan tempat peristirahatan/ pesanggrahan tersebut terjadi pada akhir-akhir masa penjajahan Belanda karena pipa-pipa yang berfungsi untuk mengalirkan air dari kolam-kolam  penampungan yang terdapat didalam tempat peristirahatan/pesanggrahan diambil oleh penduduk setempat untuk dijadikan bahan membuat senjata api rakitan untuk melakukan perlawanan pada pihak penjajah Belanda dahulu.

Dengan adanya  bangunan benteng yang sekarang merupakan bukti sejarah adanya pengauasaan pihak asing di banua kita.

 

Hari Bakti Rimbawan Ke 34

Tahura Sultan Adam (mandiangin) di tahun 2017 menjadi tuan rumah perayaan akbar Hari Bakti Rimbawan yang ke 34, pada perayaan Hari Bakti Rimbawan tersebut di hadiri oleh Mentri Lingkungan Hidup dan Kehutanan ibu Siti Nurbaya dan juga dihadiri oleh orang nomer satu di kalimantan selatan bapak Gubernur Paman Birin, di perayaan tersebut diadakan berbagai macam lomba antara lain : Wana Rallydan Rimbawan XC, juga ada berbagai macam acara yaitu, Menanam Pohon bersama Ibu Mentri, Pelantikan pejabat eselon III dan IV untuk pejabat di KPH Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan, pengukuhan Duta Tahura dan pengkuhan Pengamanan Hutan Partisipatif

 

 

 
%

duta tahura sultan adam tahun 2017

Dalam rangka menumbuhkan serta meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat secara berkelanjutan untuk berperan serta dalam upaya konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, maka salah satunya langkah kongkrit yang ditempuh Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan Selatan adalah membentuk Duta Tahura dengan melibatkan anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).

Keberadaan Duta Tahura yang terdiri dari anak-anak SD dan SLTP ini akan sangat membantu untuk menumbuhkan secara dini kesadaran cinta terhadap konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.

Duta Tahura dibentuk dengan tujuan menjadi pelopor dalam membangun dan meningkatkan kesadartahuan, kepedulian dan peran serta masyarakat dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem.  Terutama bagi mereka yang tinggal dan bersosialisasi dikawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam.

Sasaran kegiatan Duta Tahura secara langsung adalah siswa-siswi Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) sederajat dan secara tidak langsung adalah para dewan guru, orang tua siswa, anggota keluarga dan masyarakat yang berada didalam dan sekitar Tahura Sultan Adam pada khususnya dan masyarakat Kalimantan Selatan pada umumnya.

TIRTA WISATA PULAU PINUS 2

Pulau Pinus 2 merupakan sebuah pulau di tengah waduk riam kanan terbentuk karena pembuatan bendungan PLTA  Riam Kanan pada tahun 1970 seluas 1 Ha. Sejarahnya, Pulau pinus 2 di era tahun 1978 dijadikan lokasi persemain untuk mendukung program reboasasi di hutan lindung Riam Kanan dengan jenis tanaman pinus (Pinus merkusii) maka terbentuklah tegakan pohon pinus di pulau tersebut yang selanjutnya orang menyebut pulau pinus 2.

Saat ini Pulau Pinus menjadi destinasi wisata air (tirta wisata) di kawasan Danau Riam Kanan, di hari hari libur banyak wisatawan yang berlibur di Pulau Pinus 2 hanya sekedar

untuk menikmati sejuk dan segarnya udara serta menikmati pemandangan danau riam kanan yang indah serta bermain di pantai Pulau Pinus 2 yang indah dan airnya bersih, bagi yang suka berselfiria bisa memanfaatkan backgroundnya jembatan kayu sepanjang 100 meter yang membentang dari daratan ke Pulau Pinus 2.

Untuk menuju ke Pulau Pinus 2 dari Kota Bajarbaru bisa menggunakan  kendaraan roda 4 atau 2  sejauh 25 km atau 45 menit ke Pelabuhan Riam Kanan Desa Tiwingan Lama Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan, selanjutnya dari Pelabuhan Riam Kanan dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan air / Kelotok menuju Pulau Pinus 2 ditempuh selama setengah jam. (Red. Irt)

 

MUSIK PANTING DI TAHURA MANDIANGIN

Tidak seperti biasanya, Sabtu (25/12), alunan musik panting  menggema di wisata alam Tahura Sultan Adam Mandiangin. Musik tradisional Banjar tersebut dimainkan oleh 7 orang personil,  merupakan kolaborasi yang baik antara guru, siswa dan karyawan SDN SN Antasan Besar 7 Banjarmasin.
Para pengunjung banyak yang terhibur dan berharap musik panting atau budaya Banjar lainnya pada event-event tertentu terutama pada saat hari libur dapat ditampilkan lagi. Akhmad seorang pengunjung asal Balikpapan Kaltim yang sengaja mengisi liburan panjang di Tahura mengungkapkan kekagumannya dengan penampilan komunitas ini. Beberapa karyawan Tahura dengan semangat mempopulerkan dan melestarikan kearifan dan budaya lokal pun terlihat antusias nenyumbangkan beberapa lagu.
Alila, pengelola kegiatan Musik Panting di SDN SN Antasan Besar 7 Banjarmasin merasa senang bisa tampil di Tahura. Alila yang juga memegang kegiatan ekstrakurikuler siswa berharap dapat diberikan kesempatan lagi tampil menghibur para pengunjung. “Liburan tahun baru nanti kami ingin tampil all out di sini.”, katanya.

KUNJUNGAN KERJA DPR RI KOMISI IV DI TAHURA SULTAN ADAM

Komisi IV DPR RI pada tanggal 20 Desember 2016 masa reses melaksanakan kunjungan ke Tahura Sultan Adam Mandiangin di sela-sela kunjungannya ke Provinsi Kalimantan Selatan. Mereka disambut oleh Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S. Hut, MP beserta jajarannya dan Kepala UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Kalimantan Selatan beserta jajarannya. Pada kesempatan tersebut Komisi IV DPR RI memberikan informasi dan akan memfasilitasi dalam pembangunan Tahura Sultan Adam yang memiliki fungsi utama sebagai kawasan konservasi, termasuk dalam meningkatkan pengelolaan potensi wisatanya sehingga dapat menjadi destinasi tujuan wisata tanpa mengabaikan fungsi dasar Tahura Sultan Adam sebagai kawasan konservasi. Dalam kegiatan yang dipusatkan di Plaza Tahura Sultan Adam tersebut Komisi IV DPR RI juga menyempatkan melakukan kegiatan penanaman beberapa jenis tanaman seperti Trembesi, Pala, Rambutan dan sebagainya, meninjau kegiatan penangkaran Rusa Sambar dan serta meninjau hasil kegiatan penanaman HMPI Tahun 2015 yang pada saat itu di hadiri oleh Presiden RI Ir. Joko Widodo.

MALAM KEAKRABAN FAKULTAS KEHUTANAN ULM BANJARBARU

Fakultas Kehutanan ULM Banjarbaru akan mengadakan kegiatan Malam Keakraban. Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi. Kegiatan yang akan dilaksanakan pada tanggal 21 sampai dengan 22 Desember 2016 ini akan diikuti oleh sekitar 150 orang yang berasal dari mahasiswa Fakultas Kehutanan ULM Banjarbaru. Kegiatan ini akan dilaksanakan di Lapangan II, Mandiangin. Semoga kegiatan yang akan dilaksanakan berjalan sukses dan para peserta bersedia datang kembali ke Mandiangin untuk menikmati keindahan alam.

salah satu anggota mapala belajar menggunakan alat pemadam kebakaran hutan

praktek lapangan kegiatan bina cinta alam

pelatihan singkat bina cinta alam mapala/orpala di tahura sultan adam mandiangin

persiapan sebelum mengikuti praktek penggunaan alat pemadam kebakaran hutan