Category Archives: Tulisan

WISATA SEJARAH BENTENG BELANDA MANDIANGIN

Bagi anda yang suka berwisata sejarah, jangan lewatkan situs sejarah yang ada di Kalimantan Selatan, yaitu Benteng Belanda Mandiangin yang terletak di dalam kawasan wisata Taman hutan Raya (TAHURA) Sultan Adam di daerah Mandiangin Kecamatan Karang Intan Kab. Banjar.  Lokasi wisata ini biasa kita tempuh dari Banjarbaru ± 15 km biasa ditempuh dengan mobil atau sepeda motor.

Benteng Belanda ini dibangun di atas puncak Bukit Besar di tengah hutan rimbun Kalimantan, selama perjalanan menuju puncak kita akan melewati jalan yang berkelok kelok menanjak yang dikiri kanan jalannya disuguhi jurang terjal dan pemandangan yang membuat kita kagum dengan keindahan pemandangan gunung mandiangin sampai terlihat waduk Riam kanan dikejauhan.

Situs pertama yang kita jumpai adalah kolam Belanda dengan airnya yang jernih sehingga sangat segar untuk mandi dan berendam, sebab air kola ini berasal dari mata air bukit besar yang asri

Kemudian kita naik kepuncak bukit melalui jalan aspal berliku dan menanjak, kurang lebih 2 km kita akan sampai di situs tujuan, bangunan bekas peninggalan jaman Belanda ini berada tepat dipuncak bukit besar.

B.J Haga mengunjungi Mandiangin (wijn baden) 26 februari 1939

Menurut sejarah kolam Belanda ini dibangun pada Tahun 1850an bersamaan dengan bangunan benteng lainnya, yang digunakan sebagai pemandian keluarga Wijnmalen dengan pegawainya. Sempat tidak terawat, kemudian direnovasi kembali oleh Badan Pengelola Tahura Sultan Adam pada tahun 1987.

Situs yang selama ini dianggap Benteng Belanda adalah merupakan tempat peristirahatan atau pesanggrahan para pejabat Belanda pada zaman penjajahan yang di bangun sekitar tahun 1850an sebagai fasilitas tambang Julia Hermina yang eksploitasinya  di daerah Banyu Irang sampai batas  Bukit Besar  Mandiangin.  Fasilitas tersebut ditempati keluarga Wijnmalen  dan beberapa pegawai tambang  tapi semuanya terbunuh antara tahun 1859 -1860 saat perang Banjar yang terjadi pada tahun 1859 s/d 1905.

Lalu perang Banjar padam pada  tahun 1930 pemerintah Belanda melalui kewedanan Kayu Tangi distrik Karang Intan kembali membangun huis/pesanggarahan tersebut yang akan digunakan sebagai tempat peristirahatan sekaligus tempat Sanatorium pasien penyakit paru pegawai tambang akibat menghirup debu batubara. Akhirnya pada tanggal 26 Februari 1939  pesenggarahan ini diresmikan oleh  Gouverneur van Borneo Dr. Bauke Jan (B.J) Haga.

Mengenai Bentuk bangunan tempat peristirahatan/pesanggrahan didominasi oleh bahan dari kaca meniru bentuk bangunan salah satu rumah sakit yang berada di atas puncak gunung di pulau jawa.

Karena letak tempat peristirahatan/pesanggrahan berada di puncak Bukit Besar yang posisinya lebih tinggi dari tempat-tempat lain yang ada disekitarnya maka tempat peristirahatan/pesanggrahan tersebut juga berfungsi sebagai tempat untuk memonitor pergerakan musuh sekaligus tempat perlindungan/benteng.

Bangunan Benteng Belanda terdiri dari 7 (tujuh) bagian bangunan, terdiri dari : 3 (tiga) buah rumah peristirahatan (huis bahasa Belanda)  yang didalamnya dilengkapi masing-masing kolam/tandon  untuk menampung air hujan, 1 (satu) buah garasi mobil, 1 (satu) buah lapangan tenis (tennisbaan), 1 (satu) buah tempat bermain anak dan 1 (satu) kolam renang.

 

Garasi yang ada di Bukit Besar

Runtuh/rusaknya bangunan tempat peristirahatan/ pesanggrahan tersebut terjadi pada akhir-akhir masa penjajahan Belanda karena pipa-pipa yang berfungsi untuk mengalirkan air dari kolam-kolam  penampungan yang terdapat didalam tempat peristirahatan/pesanggrahan diambil oleh penduduk setempat untuk dijadikan bahan membuat senjata api rakitan untuk melakukan perlawanan pada pihak penjajah Belanda dahulu.

Dengan adanya  bangunan benteng yang sekarang merupakan bukti sejarah adanya pengauasaan pihak asing di banua kita.

 

KONTRIBUSI PENGELOLAAN TAHURA SULTAN ADAM PADA PENGEMBANGAN ANEKA USAHA KEHUTANAN DI KALIMANTAN SELATAN. Oleh : Alip Winarto, S. Hut., M. Si. *)

Akhir-akhir ini kita kawasan Tahura Sultan Adam sering disebut-sebut di media lokal  maupun nasional dengan berbagai potensi pemanfaatan jasa lingkungan yang dimilikinya maupun terkait dengan berbagai permasalahan besar yang dihadapi dalam pengelolaannya. Kawasan Tahura Sultan Adam merupakan kawasan konservasi yang sejak era otonomi daerah pengelolaannya dilimpahkan ke pemerintah daerah. Sejak 2009 pengelolaan Tahura Sultan Adam dilaksanakan oleh sebuah UPTD di bawah Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan. Kawasan konservasi ini merupakan salah satu dari kawasan hutan yang tersisa di Kalimantan Selatan setelah kawasan hutan produksi tidak lagi menjadi primadona dan ditinggalkan oleh para pemilik HPH.

Pengelolaan Tahura Sultan Adam memiliki beberapa tujuan sebagai berikut. Pertama, guna terjaminnya kelestarian kawasan Tahura dengan segala plasma nutfah yang terkandung di dalamnya. Kedua, terbinanya koleksi tumbuhan dan satwa serta potensi Tahura. Ketiga, mengoptimalkan pemanfaatan Tahura untuk koleksi tumbuhan dan atau satwa yang dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian, pendidikan dan pelatihan, ilmu pengetahuan, penyuluhan, menunjang budaya, pariwisata dan rekreasi. Keempat, tempat wisata alam sebagai sarana bina cinta alam, memelihara keindahan alam dan menciptakan iklim yang baik. Kelima, meningkatkan fungsi hidrologis Sub DAS Riam Kanan. Keenam, meningkatkan pendapatan asli daerah.

Selama berpuluh-puluh tahun dunia sektor kehutanan di Kalimantan Selatan terfokus pada hasil hutan kayu. Hal ini ditandai dengan ekspolitasi secara besar-besaran terhadap hutan produksi oleh HPH dan hadirnya beberapa industri plywood skala besar dan turunannya. Di era kejayaannya kehadiran usaha perkayuan baik di hulu maupun di hilir banyak memberikan kontribusi yang signifikan dalam mendukung pembangunan melalui pungutan PSDH dan DR maupun penyediaan lapangan kerja di Kalimantan Selatan. Pemanfaatan jasa lingkungan yang sebenarnya ketika itu juga merupakan potensi yang dapat dikelola dan dikembangkan pada sektor kehutanan menjadi terabaikan. Setelah potensi kayu di hutan produksi semakin menyusut dan tidak ekonomis diusahakan seiring dengan kerusakan hutan di Kalimantan Selatan, baru disadari bahwa potensi non kayu harus dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, sambil kembali membangun hutan yang terlanjur rusak.

Pemanfaatan jasa lingkungan merupakan suatu bentuk usaha yang memanfaatkan potensi jasa lingkungan dengan baik tidak merusak lingkungan dan mengurangi fungsi utamanya. Kegiatan pemanfaatan jasa lingkungan dapat berupa : usaha wisata alam, usaha olahraga tantangan, usaha pemanfaatan air, usaha perdagangan karbon (carbon trade) atau usaha penyelamatan hutan dan lingkungan. Sejak tahun 2011 pengelola Tahura Sultan Adam dengan segala keterbatasannya mulai melakukan pengelolaan pemanfaatan jasa lingkungan. Salah satunya adalah berupa pengelolaan wisata alam Tahura Sultan Adam Mandiangin. Kegiatan ini sebenarnya telah lama dilakukan oleh pengelola sebelumnya. Tetapi pasca penyerahan pengelolaan ke daerah pengelolaan wisata alam Tahura Sultan Adam Mandiangin mati suri. Beberapa fasilitas pendukung yang ada tidak terpelihara dengan baik sehingga mengalami kerusakan. Beberapa upaya membenahi fasilitas yang ada dan menambah fasilitas baru untuk mendukung pengelolaan wisata alam terus dilakukan.

Hasilnya secara finansial adalah sejak 2011 pengelolaan wisata alam Tahura Sultan Adam Mandiangin memberikan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) meningkat dari tahun ke tahun. PAD ini berupa pungutan retribusi yang dikenakan kepada para pengunjung, kendaraan bermotor, pemakaian fasilitas yang dibangun oleh pengelola (outbond, Rumah Banjar, gedung informasi dan warung wisata). Mekanisme pemungutan diatur dalam Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan No. 038 Tahun 2012 tentang Tata Cara Pembayaran, Penyetoran dan Tempat Pembayaran Retribusi Jasa Usaha pada Tahura Sultan Adam. Lebih dari 12.000 pengunjung tiap tahun mengunjungi obyek Wisata Alam Tahura Sultan Adam Mandiangin. Selain memberikan kontribusi PAD bagi Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, pengelolaan wisata alam juga memberikan kontribusi kepada masyarakat lokal berupa alternatif penghasilan bagi mereka. Beberapa kelompok masyarakat memanfaatkan ramainya kunjungan wisata ke Tahura Sultan Adam Mandiangin dengan membuat kios-kios makanan, pengelolaan parkir, penyewaan perlengkapan berenang, mengelola parkir dan sebagainya.

Tabel 1. Penerimaan Retribusi Wisata Alam Tahura Sultan Adam Mandiangin

No.

Tahun

Target

(Rp)

Realisasi

(Rp)

Keterangan

1.

2011

-

94.852.500,00

2.

2012

100.000.000,00

115.427.500,00

3.

2013

150.000.000,00

181.105.000,00

4.

2014

150.000.000,00

150.877.500,00

5.

2015

150.000.000,00

189.825.500.

Sumber : Laporan Tahura Sultan Adam, 2015

Di lokasi Wisata Alam Tahura Sultan Adam Mandiangin, para pengunjung dimanjakan dengan beberapa view yang indah seperti hamparan hutan tropis yang masih terpelihara dengan baik, view “tengger Mandiangin”, situs bangunan bersejarah, air terjun, agrowisata, penangkaran rusa dan sebagainya. Pengunjung juga dapat menikmati serunya outbond di lokasi Wisata Alam Tahura Sultan Adam Mandiangin, hiking, bersepeda gunung, mandi di Kolam Belanda, camping di beberapa camping ground yang tersedia, melihat dari dekat kegiatan konservasi rusa Sambar (Cervus unicolor) dan sebagainya. Fasilitas yang ada akan semakin ditingkatkan untuk mendukung pengelolaan wisata alam Mandiangin ini.

Pengelolaan potensi wisata alam Tahura Sultan Adam akan terus dikembangkan dari waktu ke waktu. Tidak hanya di wilayah Mandiangin saja, potensi wisata alam juga banyak ditemukan di Waduk Riam Kanan dan sekitarnya. Keberadaan perairan Waduk Riam Kanan, Pulau Pinus I, Pinus Pulau Pinus II, Bukit Batas, Air Terjun Lembah Kahung, Air Terjun Pahiyangan dan sebagainya sudah lama dikenal. Sehingga meskipun belum ada pengelolaan secara intensif termasuk pengenaan retribusi terhadap pengunjung Obyek Wisata Alam Tahura Sultan Adam di Riam Kanan ini sudah ramai dikunjungi. Potensi ini jika dikelola dengan baik murni oleh pengelola Tahura Sultan Adam maupun berkolaborasi dengan berbagai pihak yang terkait dipastikan juga mampu memberikan kontribusi bagi PAD Provinsi Kalimantan Selatan. Pengelolaan ini diharapkan akan berimbas positif bagi keberadaan masyarakat di sekitar Waduk Riam Kanan sehingga mereka akan terpanggil untuk tidak mengganggu hutan, ikut menjaga dan melestarikan kawasan Tahura Sultan Adam.

Potensi air yang bermanfaat luar biasa untuk kepentingan komersial dan non komersial juga tidak terlepas dari keberadaan kawasan Tahura Sultan Adam. Waduk Riam Kanan yang merupakan bagian dari kawasan Tahura Sultan Adam luasnya mencapai kurang lebih 68 km2 dengan volume air kurang lebih 492.000.000 m3. Melalui pemanfaatan air permukaan ini telah menggerakkan roda perekonomian baik yang dilakukan dengan skala perusahaan maupun oleh kelompok-kelompok masyarakat.

Salah satu perusahaan yang memanfaatkan air permukaan Tahura Sultan Adam adalah PT. PLN Persero Wilayah Kalselteng. PLTA Ir. PM Noor sebagai bagian dari PT. PLN Persero telah sejak lama menghasilkan listrik sebesar 30 MW dimana secara operasional PLTA ini sangat tergantung pada debit air Waduk Riam Kanan yang tidak lain adalah merupakan bagian dari Tahura Sultan Adam. Perusahaan milik negara ini membayar pajak daerah yang berupa pajak air permukaan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan kurang lebih berkisar Rp 600.000.000 – Rp 900.000.000 per bulan. Hal ini menunjukkan bahwa betapa besar kontribusi pengelolaan Tahura Sultan Adam dalam pengembangan aneka usaha kehutanan di Kalimantan Selatan .

Tahura Sultan Adam juga berkontribusi memberikan menyediakan sumber air baku bagi PDAM Bandarmasih maupun Intan Banjar yang kemudian diusahakan secara komersial oleh PDAM. Sementara ini PDAM memanfaatkan air baku dari Waduk Riam Kanan meskipun saat ini pengambilannya tidak langsung di kawasan Tahura Sultan Adam tetapi mengambil melalui jaringan irigasi Riam Kanan. Wacana kedepan PDAM akan mengambil air baku langsung dari Waduk Riam Kanan  dan wacana tersebut sudah mulai direalisasikan dengan membangun jaringan pipa induk PDAM ke Waduk Riam Kanan. PDAM ini selama ini juga memberikan kontribusi kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dengan membayar pajak air permukaan. Sayangnya sampai saat ini kontribusi PT. PLN Persero maupun PDAM yang memanfaatkan air permukaan Tahura Sultan Adam belum diakui sebagai bagian dari kontribusi atau pendapatan yang dihasilkan dari kawasan Tahura Sultan Adam.

Sementara itu yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa masyarakat lokal yang tinggal di sekitar Waduk Riam Kanan memanfaatkan air permukaan Tahura Sultan Adam untuk berbagai kepentingan. Mereka mengembangkan usaha budidaya ikan air tawar, memanfaatkan sebagai media transportasi antar desa, sumber air bersih dan sebagainya.  Secara langsung dan tidak langsung mereka mendapatkan manfaat ekonomi maupun non ekonomi dengan keberadaan Tahura Sultan Adam. Air yang dimanfaatkan masyarakat sangat erat kaitannya dengan keberadaan Tahura Sultan Adam. Jala apung sebagai salah satu bentuk pemanfaatan air permukaan Tahura Sultan Adam dapat ditemukan di perairan Waduk Riam Kanan maupun sepanjang aliran saluran irigasi Waduk Riam Kanan. Transportasi antar desa di sekitar Waduk Riam Kanan juga yang menggunakan klotok, ketinting dan alat sejenis lainnya juga sangat tergantung pada air permukaan Tahura Sultan Adam.

*) Kepala Seksi Pemanfaatan Tahura Sultan Adam

Jokowi Hadiri Peringatan Hari Menanam Pohon di Taman Hutan Rakyat

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden RI Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana Widodo menghadiri peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Pohon Nasional di Taman Hutan Rakyat Sultan Adam, Kalimantan Selatan, Kamis (26/11/2015).

Sumber :

http://nasional.kompas.com/read/2015/11/26/09594471/Jokowi.Hadiri.Peringatan.Hari.Menanam.Pohon.di.Taman.Hutan.Rakyat

Mengerem Deforestasi Melalui Akasia Unggul

FORDA (Bogor, 11/08/2014)_”Acacia mangium” merupakan salah satu jenis pohon andalan dalam pembangunan Hutan Tanaman Industri di Indonesia. Saat ini telah dibangun lebih dari 1 juta hektar HTI ”Acacia mangium” yang banyak tersebar di Sumatera dan Kalimantan. ”A.mangium” telah mendorong jenis tanaman ini menjadi salah satu andalan dalam pengembangan hutan rakyat.

Hal itu sejalan dengan perkembangan teknologi pengolahan kayu. Diversifikasi produk industri kehutanan berbahan baku kayu Acacia mangium itu bisa untuk suplai bahan baku industri kayu pertukangan. Peningkatan kebutuhan bahan baku berbasis kayu A.mangium yang cukup tinggi, baik untuk industri pulp, kertas, maupun pertukangan, telah mendorong perlunya upaya peningkatan produktivitas tegakan.

MENANAM POHON MEMBANGUN HUTAN Oleh : Alip Winarto, S. Hut., M. Si.*)

Dunia internasional mengakui bahwa hutan tropis Indonesia berperan besar dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim global melalui penyediaan jasa lingkungan berupa penyerapan emisi dan peningkatan cadangan karbon dari hutan yang ada. Hutan seluas kurang lebih 130 juta Ha tersebut mampu menyerap emisi karbon secara signifikan dan menjadi cadangan karbon yang cukup besar. Sayangnya, deforestasi, degradasi dan kebakaran hutan dan lahan sulit dihindari dan terus menerus terjadi. Dampaknya adalah terciptanya lahan-lahan kritis baru, sementara kegiatan rehabilitasi yang dilakukan selama ini belum menunjukkan hasil yang nyata. Jika dibiarkan berlarut-larut maka cadangan karbon akan semakin menipis dan sementara sumber emisi karbon karena melepas CO2akibat deforestasi, degradasi dan kebakaran hutan menjadi semakin besar.

W-BRIDGE BIODIVERSITY REFORESTATION PROJECT DI TAMAN HUTAN RAYA SULTAN ADAM Oleh : Alip Winarto, S. Hut. M. Si. *)

W-BRIDGE merupakan singkatan dari Waseda-Bridgestone Initiatif for Development of Global Environment. Maksudnya adalah sebuah inisiatif bersama antara Universitas Waseda salah satu universitas di Jepang dengan perusahaan Bridgestone untuk membangun lingkungan global. Salah satu kegiatan yang telah berhasil dilaksanakan adalah pengembangan W-Bridge Model yang merupakan salah satu model rehabilitasi pada lahan yang rusak (marginal) untuk kepentingan masyarakat lokal di Pulau Lompok Provinsi Nusa Tenggara Barat. Model ini kemudian selanjutnya dikembangkan di Taman Hutan Raya Sultan Adam yang memiliki lebih dari 46.000 Ha lahan kritis yang perlu dilakukan rehabilitasi.

MELESTARIKAN RUSA SAMBAR DI TAMAN HUTAN RAYA SULTAN ADAM OLeh : Alip Winarto, S. Hut. M. Si. *)

Taman Hutan Raya Sultan Adam merupakan salah satu aset besar kehutanan di Kalimantan Selatan yang perlu dikelola dan dikembangkan tanpa harus mengurangi fungsi sebagai kawasan konservasi. Salah satu kegiatan yang dapat dikembangkan adalah pengembangan obyek wisata alam yang sebelumnya pernah dirintis di  Mandiangin. Pada tahun 2010 seiring dengan berdirinya UPT Taman Hutan Raya Sultan Adam, beberapa fasilitas pendukung obyek wisata alam yang telah ada akan direnovasi kembali dan juga akan dibangun fasilitas baru seperti tracking, fasilitas outbond dan lain sebagainya disamping beberapa fasilitas lain yang diperlukan.

Tak Ada Kayu HHBK pun Bisa

Pengelolaan hutan berbasis KPH memberi harapan agar hutan dapat bermanfaat secara maximal pada 3 pilar utama : ekonomi, sosial dan lingkungan. Di beberapa tempat yang sempat saya kunjungi ada hal yang menarik untuk dapat kita simak tentang pengelolaan hutan dengan memungut hasil hutan ikutannya (HHBK), seperti KPHP Jogya.

KPHP Jogya dengan luasan yang minimal dapat menghasilkan atau menyumbangan kontribusi PAD maximal, setiap tahunnya KPHP Jogya dapat memberi masukan thp APBD sebesar Rp. 5 milyar cuma dengan mengelola hutan minyak kayu putih seluas 4.000 Ha, disamping itu manfaat lainnya berupa penyerapan tenaga kerja dan lingkungan juga terpenuhi krna dalam pemanenan minyak kayu putih tidak menebang pohonnya cukup dengan melakukan pemangkasan cabang pohon. Demikian juga dalam proses produksi minyak kayu putih tidak ada berdampak lingkungan yang berarti dalam arti zero wishe. Dengan penanaman investasi kurang lebih 10 M untuk pembangunan hutan minyak kayu putih dan pembangunan industrinya, dalam kurun waktu 4- 5 tahun BEP akan terpenuhi.

Tentang Tahura Sultan Adam

Tahura Sultan Adam ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 52 Tahun 1989 seluas 112.000 Ha, secara geografis terletak di antara 3º 2’ – 3º 45’ LS dan 114º 5’- 115º 10’ BT yang secara administratif meliputi wilayah Kabupaten Banjar dan wilayah Kabupaten Tanah Laut.Tahura Sultan Adam di Kabupaten Banjar meliputi 2 Kecamatan dan 38 Desa, sedangkan di Kabupaten Tanah Laut meliputi 3 Kecamatan dan 8 Desa.Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan Nomor 0155 Tahun 1990 tanggal 2 Mei 1990, telah dibentuk Badan Pengelola TAHURA SULTAN ADAM. Yang terdiri dari berbagai
Instansi terkait diantaranya Pemda Tk.I, Pemda Tk.II Banjar, Kanwil Dep. Hut, Kanwil Dep. Pariwisata, Dinas Pariwisata, Dinas Kehutanan, Fakultas Kehutanan Unlam, PLN dan BKSDA dan lain-lain.
Sebagai Penanggung Jawab adalah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan. Ketua dijabat oleh pembantu Gubernur Tingkat I Kalimantan Selatan Wilayah II Wakil Ketua I adalah Kanwil Dephut Propinsi Kalimantan Selatan dan Pemda Tingkat II Banjar sebagai AnggLuas Tahuraota.Dengan dimulainya Otonomi Daerah pada tahun 2001 mengakibatkan sruktur organisasi khususnya untuk Jabatan ketua dan wakil ketua I sudah tidak ada lagi. Sehingga Gubernur Kalimantan Selatan memperbaharui Badan Pengelola melalui Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Selatan No. 0283 Tahun 2003 tentang Badan Pengelola Tahura Sultan Adam.
Sebagai Penanggung Jawab adalah Gubernur Kalimantan Selatan. Ketua dijabat oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan dengan Sekretaris Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan.Sejak tahun 2008 telah dibentuk UPT Dinas kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan Taman Hutan Raya Sultan Adam dengan Dasar Perda Nomor 6 Tahun 2008 tentang SOTK Perangkat Daerah Prov. Kalsel dan Pergub Kalsel Nomor 8 Tahun 2008 tentang Pembentukan Tahura Sultan Adam(ferz)

 

Penangkaran Rusa Sambar di Tahura Sultan Adam

MARTAPURA, KOMPAS.com - Sebanyak lima ekor rusa langka ditangkarkan di areal hutan lindung, Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam, Kabupaten Banjar,Provinsi Kalimantan Selatan.

Pemantauan Antara yang mengikuti kegiatan komunitas wartawan pena hijau ke lokasi Tahura Sultan Adam, Minggu menyaksikan kelima ekor rusa tersebut terlihat sehat dan gemuk-gemuk.

Kelima ekor rusa tersebut, berkeliaran di tepi jalan menuju Tahura sehingga pengunjung bisa menyaksikan dengan mudah rusa berbadan besar dan bewarna abu kehitam-hitaman tersebut.

Dari lima rusa tersebut terlihat dua ekor yang memiliki tanduk yang panjang dan bercabang-cabang, dan hewan tersebut terkesan tidak terpengaruh oleh kedatangan pengunjung ke lokasi hutan pendidikan, hutan penelitian, dan wisata tersebut.