Category Archives: Kebakaran Hutan

MEMBAKAR BUKAN SEBAGAI KEARIFAN LOKAL

Berbagai upaya sebenarnya juga telah dilakukan dalam mengantisipasi kebakaran. Antara lain dengan kegiatan penyebarluasan informasi kepada masyarakat dan pihak-pihak terkait lainnya betapa pentingnya melestarikan hutan. Penyebarluasan informasi ini dilakukan secara langsung bertatap muka masyarakat dan aparat lokal, melalui iklan layanan masyarakat di media masa, pembagian poster dan leaflet tentang upaya pengendalian kebakaran hutan, papan-papan peringatan tentang kebakaran hutan, pelibatan tokoh masyarakat sebagai petugas pengamanan di lapangan. Upaya mengurangi ketergantungan secara ekonomi terhadap hutan juga telah dilakukan melalui beberapa program pemerintah antara lain melalui Kebun Bibit Rakyat (KBR), dimana masyarakat melalui kelompok tani dibantu dana untuk mengelola sebuah persemaian sampai penanamannya. Mereka menentukan sendiri jenis tanaman yang akan diproduksi sesuai keperluan yang diharapkan dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dan sekaligus berfungsi sebagai tanaman konservasi. Sayangnya upaya ini berbagai upaya belum cukup maksimal untuk mengendalikan kebakaran hutan.

Cuaca Panas Akibatkan Kekeringan dan Kebakaran Hutan Meningkat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Cuaca panas beberapa pekan terakhir ini menyebabkan, kekeringan dan kebakaran hutan semakin meningkat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, setiap musim kemarau datang, dua bencana itu memang berpotensi terjadi.

Kepala BNPB Bidang Humas, Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan sudah melakukan antisipasi bencana di musim kemarau, jauh sebelum musim tersebut datang.

“Kami sudah bisa mengira, kekeringan dan kebakaran dapat terjadi saat kemarau. Hanya saja, bila kami ditanya mengapa suhu bisa sangat panas, kami tak bisa memberikan jawaban, karena BMKG yang mengetahui itu,” ujarnya kepada Republika, Ahad (28/9).

Antisipasi yang dilakukan BNPB meliputi water boombing, pemadaman kebakaran, dan upaya penegakkan hukum. Kemudian untuk menghindari kekeringan, Sutopo mengaku, BNPB sudah memompa air bersih untuk masyarakat.

Ia berharap, masyarakat dapat turut membantu pencegahan bencana di cuaca panas, seperti tak melakukan pembakaran, serta mencegah pembakaran terjadi di lingkungannya.

Puncak Kemarau Hingga Oktober, Potensi Kebakaran di Kalimantan Makin Meluas

Jakarta – Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, hotspot atau titik api di Kalimantan terus mengalami peningkatan. Potensi kebakaran akan terus meluas jika tidak dikendalikan.

“Puncak kemarau diperkirakan hingga Oktober 2014 sehingga potensi kebakaran akan makin meluas jika tidak ada pengendalian,” kata Sutopo kepada detikcom, Senin(15/9/2014).

Dijelaskan Sutopo, berdasarkan data 2006-2014, pola hotspot di Sumatera dominan terjadi pada pertengahan Juni-Oktober, dan di Kalimantan pada Agustus-Oktober. Puncak hotspot adalah bulan September-Oktober. Daerah-daerah yang terbakar adalah lahan gambut yang sulit dipadamkan.

Menurut Sutopo, berdasarkan pantauan terakhir satelit Modis (Terra dan Aqua) hari ini, hotspot di Kalimantan tengah 630, Kalimantan Barat 268, dan Kalimantan Selatan 74. Sedangkan di Sumatera Selatan 281, Riau 94, Kepulauan Bangka Belitung 53, Jambi 48, dan Lampung 8.

BNPB: 99 Persen Kebakaran Hutan Karena Sengaja Dibakar

Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membeberkan data mengerikan terkait kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan. 99 Persen kebakaran hutan karena sengaja dibakar dan mereka tetap melakukannya meskipun musim hujan.

“Selama Februari hingga Juli, hotspot yang terjadi lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Artinya, pembakaran juga dilakukan saat musim penghujan,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di kantornya, Jl Juanda, Jakarta Pusat, Rabu (17/9/2014).

Pola hotspot yang terjadi di Sumatera selalu menunjukkan peningkatan signifikan di bulan Juni-Oktober, untuk Kalimantan terjadi di bulan Agustus-Oktober. Khusus di Riau, hotspot meningkat pada bulan Februari-Maret dan memicu bencana asap.

“Bencana kebakaran hutan alami terbesar di Indonesia terjadi saat El Nino tahun 1997 lalu. Tapi sekarang 99 persen penyebabnya karena dibakar dan 70 persennya terjadi di luar kawasan hutan,” ujar Sutopo.

Langkah Pemerintah Atasi Kebakaran Hutan, dari Pencegahan Sampai Hukuman Berat

Jakarta – Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sudah menghanguskan puluhan ribu hektar cagar biosfer dan hutan. 99 Persen disebabkan oleh ulah manusia, namun asapnya membuat 85.000 orang terserang gangguan pernapasan dan negara tetangga pun protes hingga Presiden SBY meminta maaf.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, sebaran asap di Sumatera dan Kalimantan pada 12 September-15 September 2014 mengarah ke utara. Sementara di utara Indonesia ada negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam.

“Adanya siklon Kalmaegi menyebabkan asap di Sumsel dan Riau menyebar ke Singapura dan Malaysia. Kualitas udara di Singapura menurun dari tingkat sedang menjadi tidak sehat,” ujar Sutopo di kantornya, Jl Juanda, Jakarta Pusat, Kamis (17/9/2014).

‎Berdasarkan pantauan satelit NOAA-18 dan MODIS pada 15 September 2014, titik hotspot masih ada dan jumlahnya mencapai ratusan. Titik-titik hotspot ini tersebar di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau dan Jambi.

“Kita lakukan antisipasi bencana kebakaran hutan dan lahan hingga November 2014. Bersama TNI, Polri, Pemda dan lainnya melakukan langkah-langkah antisipasi seperti water bombing, penegakan hukum dan lainnya,” ujar Sutopo.

KEBAKARAN HUTAN: Kalsel waspadai 257 hotspot

BANJARMASIN- Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan terus mewaspadai dan mengantisipasi kemungkinan terjadinya kebakaran hutan di provinsi tersebut, seiring masim kemarau panjang tahun ini.

“Apalagi Kalsel seperti saat ini, terdapat 257 titik api (hotspot) yang tersebar pada sejumlah kabupaten/kota, termasuk kawasan hutan,” ujar Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) provinsi setempat Rakhmadi Kurdi, di Banjarmasin, Kamis (13/09).

Ia menyatakan, berkat kewaspadaan dan antisipasi, ia bersyukur hanya beberapa hektare kawasan hutan Kalsel yang terbakar pada musim kemarau tahun ini.

“Kita berharap kewaspadaan terus ditingkatkan dan antisipasi dilakukan agar kebakaran kawasan hutan jangan makin bertambah banyak,” lanjutnya menjawab ANTARA Kalsel lewat telepon seluler.

Tahura Kembali Membara

MARTAPURA, BPOST - Dua hari sejak Selasa (5/8), kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam, Banjar, kembali diamuk api. Bahkan, hingga Rabu (6/8) malam, api yang membakar kawasan Tengger Bukit Besar, Mandiangin Barat, Banjar, belum bisa sepenuhnya dipadamkam.

Sebelumnya, api juga membakar Tahura dengan luasan lahan lebih dari 10 hektare di kawasan Bukit Pamaton, Pantai Kopi, Desa Kiram, Karangintan. Petugas BP (Badan Pengelola) Tahura dan Manggala Agni, termasuk Kepala BP Akhmad Ridhani dan Kasi Perlindungan BP Alief Winarto, kesulitan ‘menjinakkan’ si jago merah yang terus berkobar. Apalagi, kondisi medan yang curam makin mempersulit mereka menjangkau lokasi.

Informasi yang diperoleh BPost menyebutkan, api mulai terlihat sekitar pukul 12.40 Wita. Semula membakar semak belukar, sebelum menjalar dan makin berkobar. Luasan lahan pun terbakar pun secara cepat meluas karena kencangnya angin. Agar tidak merambah ke kawasan tanaman penghijaauan, petugas langsung membuat sekat dengan teknik membakar balik semak-semak yang tersisa.

Mengenai penyebab kebakaran hebat itu, Ridhani menduga karena faktor manusia. Api Yang berasal dari Pantai Kopi menyeberang ke Bukit Besar. “Kali ini kebakarannya cukup luas,” ucapnya.

Selengkapnya baca Banjarmasin Post edisi cetak Kamis (7/8/2014)

Kalsel Antisipasi Kebakaran Hutan Musim Kemarau

Skalanews – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan yang mungkin terjadi selama musim kemarau dalam beberapa bulan ke depan.

Kepala Manggala Agni Daerah Operasi (DAOP) I Kabupaten Banjar, Zulkarnaen, Senin, mengatakan, Kalimantan Selatan merupakan salah satu daerah yang diprediksi akan mengalami kebakaran hutan dan lahan, akibat pengaruh cuaca kemarau ekstrem (elnino).

Menghadapi hal tersebut, tambah dia, kini pihaknya terus melakukan berbagai persiapan untuk antisipasi atau pencegahan dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan juga melakukan pelatihan penanganan kebakaran hutan dan lahan.