Monthly Archives: April 2013

Tak Ada Kayu HHBK pun Bisa

Pengelolaan hutan berbasis KPH memberi harapan agar hutan dapat bermanfaat secara maximal pada 3 pilar utama : ekonomi, sosial dan lingkungan. Di beberapa tempat yang sempat saya kunjungi ada hal yang menarik untuk dapat kita simak tentang pengelolaan hutan dengan memungut hasil hutan ikutannya (HHBK), seperti KPHP Jogya.

KPHP Jogya dengan luasan yang minimal dapat menghasilkan atau menyumbangan kontribusi PAD maximal, setiap tahunnya KPHP Jogya dapat memberi masukan thp APBD sebesar Rp. 5 milyar cuma dengan mengelola hutan minyak kayu putih seluas 4.000 Ha, disamping itu manfaat lainnya berupa penyerapan tenaga kerja dan lingkungan juga terpenuhi krna dalam pemanenan minyak kayu putih tidak menebang pohonnya cukup dengan melakukan pemangkasan cabang pohon. Demikian juga dalam proses produksi minyak kayu putih tidak ada berdampak lingkungan yang berarti dalam arti zero wishe. Dengan penanaman investasi kurang lebih 10 M untuk pembangunan hutan minyak kayu putih dan pembangunan industrinya, dalam kurun waktu 4- 5 tahun BEP akan terpenuhi.

Arkeolog mulai menjamah Tahura Sultan Adam

Pada hari Rabu, 24 April 2013 kemaren Tahura Sultan Adam kedatangan tamu dari Balai Arkeologi Banjarmasin sebanyak 3 orang yaitu, Pak Bambang, Pak Nugi dan Pak Bagus.  Kedatangan mereka adalah untuk peninjauan lapangan kepurbakalaan yang berada di kawasan Tahura Sultan adam.   Adapun Peninggalan sejarah yang di tinjau adalah Benteng Belanda, Kolam/pemandian Belanda dan Goa Jepang yang di gunung Pamaton.  Kegiatan peninjauan lapangan di lokasi tersebut di atas sangat menarik dan menumbuhkan energi baru bagi Tahura Sultan Adam untuk kembali menggali aset-aset yang terpendam di kawasan Tahura Sultan Adam.  ke depan diharapkan aset tersebut akan menjadi wahana baru bagi pengunjung Tahura untuk mengenal sejarah yang pernah ada di Kalimantan Selatan. (ferz)

Tentang Tahura Sultan Adam

Tahura Sultan Adam ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 52 Tahun 1989 seluas 112.000 Ha, secara geografis terletak di antara 3º 2’ – 3º 45’ LS dan 114º 5’- 115º 10’ BT yang secara administratif meliputi wilayah Kabupaten Banjar dan wilayah Kabupaten Tanah Laut.Tahura Sultan Adam di Kabupaten Banjar meliputi 2 Kecamatan dan 38 Desa, sedangkan di Kabupaten Tanah Laut meliputi 3 Kecamatan dan 8 Desa.Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan Nomor 0155 Tahun 1990 tanggal 2 Mei 1990, telah dibentuk Badan Pengelola TAHURA SULTAN ADAM. Yang terdiri dari berbagai
Instansi terkait diantaranya Pemda Tk.I, Pemda Tk.II Banjar, Kanwil Dep. Hut, Kanwil Dep. Pariwisata, Dinas Pariwisata, Dinas Kehutanan, Fakultas Kehutanan Unlam, PLN dan BKSDA dan lain-lain.
Sebagai Penanggung Jawab adalah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan. Ketua dijabat oleh pembantu Gubernur Tingkat I Kalimantan Selatan Wilayah II Wakil Ketua I adalah Kanwil Dephut Propinsi Kalimantan Selatan dan Pemda Tingkat II Banjar sebagai AnggLuas Tahuraota.Dengan dimulainya Otonomi Daerah pada tahun 2001 mengakibatkan sruktur organisasi khususnya untuk Jabatan ketua dan wakil ketua I sudah tidak ada lagi. Sehingga Gubernur Kalimantan Selatan memperbaharui Badan Pengelola melalui Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Selatan No. 0283 Tahun 2003 tentang Badan Pengelola Tahura Sultan Adam.
Sebagai Penanggung Jawab adalah Gubernur Kalimantan Selatan. Ketua dijabat oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan dengan Sekretaris Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan.Sejak tahun 2008 telah dibentuk UPT Dinas kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan Taman Hutan Raya Sultan Adam dengan Dasar Perda Nomor 6 Tahun 2008 tentang SOTK Perangkat Daerah Prov. Kalsel dan Pergub Kalsel Nomor 8 Tahun 2008 tentang Pembentukan Tahura Sultan Adam(ferz)