Monthly Archives: February 2016

GEO EXPLORER HIMA GEO FKIP UNLAM BANJARMASIN

Hima Geo FKIP Unlam Banjarmasin akan mengadakan kegiatan Geo Explorer. Maksud dilaksanakannya kegiatan ini membuat keakraban anggota baru Hima Goe dengan anggota lama. Kegiatan ini bertujuan untuk merekrut anggota baru Hima Geo. Kegiatan yang akan dilaksanakan pada tanggal 13 Februari sampai dengan  14 Februari 2016 ini akan diikuti oleh sekitar 73 orang yang berasal dari Mahasiswa Program Study Geografi FKIP Unlam Banjarmasin. Kegiatan ini akan dilaksanakan di Lapangan Pulau Biru, Mandiangin. Semoga kegiatan yang akan dilaksanakan berjalan sukses dan para peserta bersedia datang kembali ke Mandiangin untuk menikmati keindahan alam.

TASMI’ AL-QUR’AN DAN VISITING HOMESCHOOLING GROUP SD KHOIRU UMMAH

Pada tanggal 7 Februari 2016, Homeschooling Group SD Khoiru Ummah telah mengadakan kegiatan Tasmi’ Al-Qur’an dan Visiting di Gedung Pertemuan. Maksud dilaksanakannya kegiatan ini merupakan agenda per bulan yang harus dilaksanakan oleh Khoiru Ummah. Kegiatan ini bertujuan untuk menguji hafalan Al-Qur’an siswa sesuai standar yang ditentukan sebagai syarat masuk ke level hafalan berikutnya, dan sebagai salah satu pembelajaran siswa di luar ruangan. Kegiatan ini telah diikuti oleh sekitar 28 orang, yang terdiri dari 7 orang siswa, 14 orang tua, dan 7 orang guru dan keluarga. Terima kasih atas kedatangannya dan semoga para peserta bersedia datang kembali untuk menikmati keindahan alam di Mandiangin.

SYLVA TRAINING CAMP KE X (STC X) MAPALA SYLVA

Pada tanggal 27 Januari sampai dengan tanggal 31 Januari 2016, Mapala Sylva telah mengadakan kegiatan Sylva Training Camp ke X di Lapangan II. Maksud dilaksanakannya kegiatan ini adalah tahapan untuk menjadi anggota. Kegiatan ini bertujuan untuk membentuk mental, disiplin, dan kebersamaan dari para peserta yang akan mengikuti kegiatan. Kegiatan ini telah diikuti oleh sekitar 50 orang yang berasal dari Kalsel dan luar Kalsel. Terima kasih atas kedatangannya dan semoga para peserta bersedia datang kembali untuk menikmati keindahan alam di Mandiangin.

KONTRIBUSI PENGELOLAAN TAHURA SULTAN ADAM PADA PENGEMBANGAN ANEKA USAHA KEHUTANAN DI KALIMANTAN SELATAN. Oleh : Alip Winarto, S. Hut., M. Si. *)

Akhir-akhir ini kita kawasan Tahura Sultan Adam sering disebut-sebut di media lokal  maupun nasional dengan berbagai potensi pemanfaatan jasa lingkungan yang dimilikinya maupun terkait dengan berbagai permasalahan besar yang dihadapi dalam pengelolaannya. Kawasan Tahura Sultan Adam merupakan kawasan konservasi yang sejak era otonomi daerah pengelolaannya dilimpahkan ke pemerintah daerah. Sejak 2009 pengelolaan Tahura Sultan Adam dilaksanakan oleh sebuah UPTD di bawah Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan. Kawasan konservasi ini merupakan salah satu dari kawasan hutan yang tersisa di Kalimantan Selatan setelah kawasan hutan produksi tidak lagi menjadi primadona dan ditinggalkan oleh para pemilik HPH.

Pengelolaan Tahura Sultan Adam memiliki beberapa tujuan sebagai berikut. Pertama, guna terjaminnya kelestarian kawasan Tahura dengan segala plasma nutfah yang terkandung di dalamnya. Kedua, terbinanya koleksi tumbuhan dan satwa serta potensi Tahura. Ketiga, mengoptimalkan pemanfaatan Tahura untuk koleksi tumbuhan dan atau satwa yang dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian, pendidikan dan pelatihan, ilmu pengetahuan, penyuluhan, menunjang budaya, pariwisata dan rekreasi. Keempat, tempat wisata alam sebagai sarana bina cinta alam, memelihara keindahan alam dan menciptakan iklim yang baik. Kelima, meningkatkan fungsi hidrologis Sub DAS Riam Kanan. Keenam, meningkatkan pendapatan asli daerah.

Selama berpuluh-puluh tahun dunia sektor kehutanan di Kalimantan Selatan terfokus pada hasil hutan kayu. Hal ini ditandai dengan ekspolitasi secara besar-besaran terhadap hutan produksi oleh HPH dan hadirnya beberapa industri plywood skala besar dan turunannya. Di era kejayaannya kehadiran usaha perkayuan baik di hulu maupun di hilir banyak memberikan kontribusi yang signifikan dalam mendukung pembangunan melalui pungutan PSDH dan DR maupun penyediaan lapangan kerja di Kalimantan Selatan. Pemanfaatan jasa lingkungan yang sebenarnya ketika itu juga merupakan potensi yang dapat dikelola dan dikembangkan pada sektor kehutanan menjadi terabaikan. Setelah potensi kayu di hutan produksi semakin menyusut dan tidak ekonomis diusahakan seiring dengan kerusakan hutan di Kalimantan Selatan, baru disadari bahwa potensi non kayu harus dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, sambil kembali membangun hutan yang terlanjur rusak.

Pemanfaatan jasa lingkungan merupakan suatu bentuk usaha yang memanfaatkan potensi jasa lingkungan dengan baik tidak merusak lingkungan dan mengurangi fungsi utamanya. Kegiatan pemanfaatan jasa lingkungan dapat berupa : usaha wisata alam, usaha olahraga tantangan, usaha pemanfaatan air, usaha perdagangan karbon (carbon trade) atau usaha penyelamatan hutan dan lingkungan. Sejak tahun 2011 pengelola Tahura Sultan Adam dengan segala keterbatasannya mulai melakukan pengelolaan pemanfaatan jasa lingkungan. Salah satunya adalah berupa pengelolaan wisata alam Tahura Sultan Adam Mandiangin. Kegiatan ini sebenarnya telah lama dilakukan oleh pengelola sebelumnya. Tetapi pasca penyerahan pengelolaan ke daerah pengelolaan wisata alam Tahura Sultan Adam Mandiangin mati suri. Beberapa fasilitas pendukung yang ada tidak terpelihara dengan baik sehingga mengalami kerusakan. Beberapa upaya membenahi fasilitas yang ada dan menambah fasilitas baru untuk mendukung pengelolaan wisata alam terus dilakukan.

Hasilnya secara finansial adalah sejak 2011 pengelolaan wisata alam Tahura Sultan Adam Mandiangin memberikan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) meningkat dari tahun ke tahun. PAD ini berupa pungutan retribusi yang dikenakan kepada para pengunjung, kendaraan bermotor, pemakaian fasilitas yang dibangun oleh pengelola (outbond, Rumah Banjar, gedung informasi dan warung wisata). Mekanisme pemungutan diatur dalam Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan No. 038 Tahun 2012 tentang Tata Cara Pembayaran, Penyetoran dan Tempat Pembayaran Retribusi Jasa Usaha pada Tahura Sultan Adam. Lebih dari 12.000 pengunjung tiap tahun mengunjungi obyek Wisata Alam Tahura Sultan Adam Mandiangin. Selain memberikan kontribusi PAD bagi Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, pengelolaan wisata alam juga memberikan kontribusi kepada masyarakat lokal berupa alternatif penghasilan bagi mereka. Beberapa kelompok masyarakat memanfaatkan ramainya kunjungan wisata ke Tahura Sultan Adam Mandiangin dengan membuat kios-kios makanan, pengelolaan parkir, penyewaan perlengkapan berenang, mengelola parkir dan sebagainya.

Tabel 1. Penerimaan Retribusi Wisata Alam Tahura Sultan Adam Mandiangin

No.

Tahun

Target

(Rp)

Realisasi

(Rp)

Keterangan

1.

2011

-

94.852.500,00

2.

2012

100.000.000,00

115.427.500,00

3.

2013

150.000.000,00

181.105.000,00

4.

2014

150.000.000,00

150.877.500,00

5.

2015

150.000.000,00

189.825.500.

Sumber : Laporan Tahura Sultan Adam, 2015

Di lokasi Wisata Alam Tahura Sultan Adam Mandiangin, para pengunjung dimanjakan dengan beberapa view yang indah seperti hamparan hutan tropis yang masih terpelihara dengan baik, view “tengger Mandiangin”, situs bangunan bersejarah, air terjun, agrowisata, penangkaran rusa dan sebagainya. Pengunjung juga dapat menikmati serunya outbond di lokasi Wisata Alam Tahura Sultan Adam Mandiangin, hiking, bersepeda gunung, mandi di Kolam Belanda, camping di beberapa camping ground yang tersedia, melihat dari dekat kegiatan konservasi rusa Sambar (Cervus unicolor) dan sebagainya. Fasilitas yang ada akan semakin ditingkatkan untuk mendukung pengelolaan wisata alam Mandiangin ini.

Pengelolaan potensi wisata alam Tahura Sultan Adam akan terus dikembangkan dari waktu ke waktu. Tidak hanya di wilayah Mandiangin saja, potensi wisata alam juga banyak ditemukan di Waduk Riam Kanan dan sekitarnya. Keberadaan perairan Waduk Riam Kanan, Pulau Pinus I, Pinus Pulau Pinus II, Bukit Batas, Air Terjun Lembah Kahung, Air Terjun Pahiyangan dan sebagainya sudah lama dikenal. Sehingga meskipun belum ada pengelolaan secara intensif termasuk pengenaan retribusi terhadap pengunjung Obyek Wisata Alam Tahura Sultan Adam di Riam Kanan ini sudah ramai dikunjungi. Potensi ini jika dikelola dengan baik murni oleh pengelola Tahura Sultan Adam maupun berkolaborasi dengan berbagai pihak yang terkait dipastikan juga mampu memberikan kontribusi bagi PAD Provinsi Kalimantan Selatan. Pengelolaan ini diharapkan akan berimbas positif bagi keberadaan masyarakat di sekitar Waduk Riam Kanan sehingga mereka akan terpanggil untuk tidak mengganggu hutan, ikut menjaga dan melestarikan kawasan Tahura Sultan Adam.

Potensi air yang bermanfaat luar biasa untuk kepentingan komersial dan non komersial juga tidak terlepas dari keberadaan kawasan Tahura Sultan Adam. Waduk Riam Kanan yang merupakan bagian dari kawasan Tahura Sultan Adam luasnya mencapai kurang lebih 68 km2 dengan volume air kurang lebih 492.000.000 m3. Melalui pemanfaatan air permukaan ini telah menggerakkan roda perekonomian baik yang dilakukan dengan skala perusahaan maupun oleh kelompok-kelompok masyarakat.

Salah satu perusahaan yang memanfaatkan air permukaan Tahura Sultan Adam adalah PT. PLN Persero Wilayah Kalselteng. PLTA Ir. PM Noor sebagai bagian dari PT. PLN Persero telah sejak lama menghasilkan listrik sebesar 30 MW dimana secara operasional PLTA ini sangat tergantung pada debit air Waduk Riam Kanan yang tidak lain adalah merupakan bagian dari Tahura Sultan Adam. Perusahaan milik negara ini membayar pajak daerah yang berupa pajak air permukaan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan kurang lebih berkisar Rp 600.000.000 – Rp 900.000.000 per bulan. Hal ini menunjukkan bahwa betapa besar kontribusi pengelolaan Tahura Sultan Adam dalam pengembangan aneka usaha kehutanan di Kalimantan Selatan .

Tahura Sultan Adam juga berkontribusi memberikan menyediakan sumber air baku bagi PDAM Bandarmasih maupun Intan Banjar yang kemudian diusahakan secara komersial oleh PDAM. Sementara ini PDAM memanfaatkan air baku dari Waduk Riam Kanan meskipun saat ini pengambilannya tidak langsung di kawasan Tahura Sultan Adam tetapi mengambil melalui jaringan irigasi Riam Kanan. Wacana kedepan PDAM akan mengambil air baku langsung dari Waduk Riam Kanan  dan wacana tersebut sudah mulai direalisasikan dengan membangun jaringan pipa induk PDAM ke Waduk Riam Kanan. PDAM ini selama ini juga memberikan kontribusi kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dengan membayar pajak air permukaan. Sayangnya sampai saat ini kontribusi PT. PLN Persero maupun PDAM yang memanfaatkan air permukaan Tahura Sultan Adam belum diakui sebagai bagian dari kontribusi atau pendapatan yang dihasilkan dari kawasan Tahura Sultan Adam.

Sementara itu yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa masyarakat lokal yang tinggal di sekitar Waduk Riam Kanan memanfaatkan air permukaan Tahura Sultan Adam untuk berbagai kepentingan. Mereka mengembangkan usaha budidaya ikan air tawar, memanfaatkan sebagai media transportasi antar desa, sumber air bersih dan sebagainya.  Secara langsung dan tidak langsung mereka mendapatkan manfaat ekonomi maupun non ekonomi dengan keberadaan Tahura Sultan Adam. Air yang dimanfaatkan masyarakat sangat erat kaitannya dengan keberadaan Tahura Sultan Adam. Jala apung sebagai salah satu bentuk pemanfaatan air permukaan Tahura Sultan Adam dapat ditemukan di perairan Waduk Riam Kanan maupun sepanjang aliran saluran irigasi Waduk Riam Kanan. Transportasi antar desa di sekitar Waduk Riam Kanan juga yang menggunakan klotok, ketinting dan alat sejenis lainnya juga sangat tergantung pada air permukaan Tahura Sultan Adam.

*) Kepala Seksi Pemanfaatan Tahura Sultan Adam

TRAINING TEST 1 PASMAN (PENCINTA ALAM SMAN 1 MARTAPURA)

Pada tanggal 16 Januari sampai dengan tanggal 17 Januari 2016, PASMAN telah mengadakan kegiatan Training Test 1 di Lapangan Pulau Biru. Maksud dilaksanakannya kegiatan ini untuk praktik lapangan. Kegiatan ini bertujuan untuk memperdalam pembelajaran survivol. Kegiatan ini telah diikuti oleh sekitar 30 orang yang berasal dari SMAN 1 Martapura. Terima kasih atas kedatangannya dan semoga para peserta bersedia datang kembali untuk menikmati keindahan alam di Mandiangin.