Community Based Commercial Forestry (CBCF): ”Strategi Kunci Pengembangan Sektor Kehutanan”

FORDA (Yogyakarta, 29/8/2014)_Sebagai salah satu upaya meningkatkan penghidupan petani dari sumber pertanian kayu, serta sebagai tugas utama dari lembaga penelitian, universitas, pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat untuk menemukan masalah di tingkat tapak serta mencarikan strategi terbaik, maka Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan (FORDA), Center for International Forestry Research (CIFOR) serta para mitra organisasi melakukan pertemuan final proyek Community-Based Commercial Forestry (CBCF) yang bertujuan untuk menyampaikan rekomendasi-rekomendasi kebijakan hasil penelitian bersama di daerah Gunungkidul, Pati, Sumbawa, Bulukumba, dan Konawe Selatan kepada publik, termasuk media sebagai perangkat penting penyebaran luasan informasi masa di Hotel Inna Garuda, Yogyakarta pada hari Selasa (27/08).

Peserta yang datang sebanyak 81 orang, yang terdiri dari Kapusprohut, Kepala Dinas Kehutanan DIY, ACIAR, ICRAF, CIFOR, UGM, BPDASPS, BUK, BP2SDMK, Pusdal Regional 2, Pushumas, Bappeda Propinsi DIY, Dinas Kehutanan Jawa Tengah, UPT lingkup Badan Litbang Kehutanan, Dinas Kehutanan Gunungkidul, Pati, Bulukumba, Konawe Selatan, Sumbawa, BPDAS Pemali Jratun, BPDAS Opak Serayu Progo, ANU, University of Queensland, Melbourne University, CSIRO, CV Dipantara, NGO Arupa, NGO Shorea dan beberapa petani hutan rakyat dari beberapa daerah di Indonesia.

Data Kementerian Kehutanan tahun 2009 memperlihatkan bahwa luas hutan rakyat mencapai 3,589,434 ha dengan potensi standing stock 125,627,018 m³ sementara potensi yang dapat dipanen mencapai 20,937,836 m³ per tahun. Peningkatan luas areal hutan rakyat dan potensi kayunya tidak dapat dilepaskan dari peran dan partisipasi masyarakat petani. Pembangunan hutan rakyat sendiri mengalami perkembangan pesat pada tahun 1990-an, demikian Sambutan Kabadan Litbang Kehutanan, yang diwakili oleh Kapusprohut, Dr. Ir. Bambang Tri Hartono, M.F.

“Project ACIAR FST/2008/030 ‘Overcoming Constraints to Community Based Commercial Forestry in Indonesia’ merupakan kerjasama penelitian antara Australia/ACIAR dan Indonesia/Badan Litbang Kehutanan yang melibatkan beberapa institusi seperti Puspijak, BPK Makassar, CIFOR, UGM, WWF Sumbawa, dan Australian National University (ANU). Community Based Commercial Forestry (CBCF) merupakan salah satu komponen kunci dari strategi sektor kehutanan di Indonesia dan menjadi lebih penting baik sebagai mekanisme untuk menjaga sumber daya kayu untuk industri pengolahan serta untuk meningkatkan hasil ekonomi dan lingkungan dalam lanskap kehutanan” kata Dr. Bambang Tri.

“Tujuan dari kerjasama ini adalah; 1) Melakukan analisis dimensi sosial CBCF, termasuk mengembangkan kerangka kerja ‘mata pencaharian dari sektor kehutanan; 2) Melakukan evaluasi ‘rantai nilai’ dari model bisnis CBCF yang dominan; 3) Meningkatkan kapasitas partisipasi petani untuk membuat keputusan investasi yang lebih baik; dan 4) Mempengaruhi pemangku kepentingan (pembuat kebijakan, ketua program, staf lapangan, kepala desa / tokoh masyarakat) untuk mengoptimalkan CBCF, “ tegas Dr.Bambang Tri

Lebih lanjut Dr. Bambang Tri mengatakan bahawa kerjasama ini dilaksanakan dalam waktu 4,5 tahun sejak 11 Maret 2011 s/d 30 September 2015 di lima lokasi studi, yaitu Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah untuk Tim Puspijak, Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan untuk Tim BPK Makassar, Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara untuk Tim BPK Makassar-CIFOR, Kabupaten Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk Tim WWF Sumbawa, dan Kabupaten Gunung Kidul Provinsi DI Yogyakarta untuk Tim UGM-CIFOR”

Apabila dikaitkan dengan Rencana Strategis (RENSTRA) Kementerian Kehutanan, kerjasama penelitian ini termasuk ke dalam sasaran RENSTRA tentang ‘Penyediaan teknologi dasar dan terapan silvikultur, pengolahan hasil hutan, konservasi alam dan sosial ekonomi guna mendukung pengelolaan hutan lestari’. Terkait dengan Program dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kehutanan maka penelitian ini termasuk dalam Program tentang ‘Peningkatan produktivitas, kualitas, dan nilai ekonomi kayu hutan rakyat dan hasil hutan bukan kayu’, “ kata Dr. Bambang Tri.

Terkait dengan hal tersebut, secara lebih khusus, dari keempat tujuan tersebut diatas dijabarkan ke dalam empat tugas yaitu ; 1) Tugas 1 tentang Analisis dimensi sosial masyarakat petani hutan rakyat. 2) Tugas 2 tentang Kerangka penghidupan dari sektor kehutanan; 3) Tugas 3 tentang Analisis rantai nilai kayu rakyat; dan 4) Tugas 4 tentang Pendekatan pembelajaran petani, “tegas Dr. Bambang Tri

Annual meeting atau pertemuan tahunan untuk pertama kali diselenggarakan pada pertengahan tahun 2012 di Makassar membahas hasil Tugas 1. Pertemuan tahunan kedua diselenggarakan pada pertengahan tahun 2013 di Bogor membahas hasil Tugas 2 dan Tugas 3, dilanjutkan dengan Workshop Penulisan Ilmiah dan Worshop Metode Tugas 4. Sedangkan Pertemuan tahunan yang diselenggarakan pada tahun 2014 di Yogyakarta ini membahas hasil Tugas 4 dan rencana publikasi yang akan diterbitkan. Selain itu ada kegiatan tambahan untuk melakukan analisis sertifikasi hutan rakyat yang diharapkan akan bermanfaat bagi petani yang akan selesai pada September 2014.

“Kegiatan kerjasama penelitian sampai saat ini telah menghasilkan beberapa temuan, Dari analisis dimensi sosial CBCF menunjukkan perlunya peningkatan pengetahuan para penyuluh kehutanan dan petani dalam bidang manajemen pohon (jarak tanam, pemangkasan, penjarangan, pemanenan, tebang pilih), dan pemasaran (mengukur diameter, menghitung volume, dan melakukan grading kayu). Dari analisis terhadap kerangka penghidupan dari sektor kehutanan memperlihatkan bahwa sumberdaya atau aset yang dimiliki petani dapat dikelompokkan menjadi lima, yaitu aset sumber daya manusia (SDM), sumber daya alam (SDA), keuangan, fisik, dan social” kata Dr. Bambang Tri.

Lebih lanjut Dr. Bambang Tri mengatakan bahwa di antara kelima aset tersebut, dalam mengelola hutan rakyatnya, petani kaya lebih banyak memanfaatkan aset fisik dan SDM, petani sedang lebih banyak memanfaatkan aset fisik dan keuangan, dan petani miskin lebih banyak memanfatkan aset sosial. Sedangkan analisis rantai nilai kayu rakyat memperlihatkan bahwa pemasaran kayu rakyat didorong oleh permintaan pasar sehingga potensi yang baik untuk menjadikan hutan rakyat sebagai bisnis yang menarik bagi petani kecil. Hal tersebut masih sangat memerlukan dukungan kebijakan pemerintah untuk mengatasi tantangan yang dihadapi, seperti membangun pemahaman tentang pasar kayu yang lebih baik, bantuan untuk menerapkan praktek-praktek pengelolaan hutan yang lebih baik, dan perlu dibebaskan dari biaya perijinan dan dokumen transportasi kayu yang disinsentif.

“Terkait dengan output proyek, telah dikomunikasikan dan didiseminasikan dalam berbagai bentuk berupa laporan teknis proyek dari kelima lokasi penelitian, video ‘growing java’, presentasi di forum nasional dan internasional, publikasi pada jurnal nasional (2 artikel) dan internasional (1 artikel), policy brief (1 artikel), brief info (7 edisi), dan beberapa pemberitaan pada koran local di lokasi penelitian, “ kata Dr. Bambang Tri.

“Kerjasama penelitian ini juga telah melakukan berbagai pelatihan baik secara internal untuk anggota proyek dan eksternal dengan mitra proyek dan pemangku kepentingan lainnya. Lokakarya penulisan ilmiah untuk anggota tim peneliti dan lokakarya ilmu sosial yang diselenggarakan bersama-sama dengan proyek ACIAR yang parallel diharapkan dapat memberi kontribusi penting untuk peningkatan kapasitas penelitian dari para ilmuwan yang berpartisipasi dan organisasi masing-masing, “ tegas Dr. Bambang Tri

“Training of trainer’ dirancang untuk memperbaiki pendekatan ‘pembelajaran petani’ serta ‘program pelatihan petani Master TreeGrower’ yang diselenggarakan di 5 lokasi studi diharapkan akan meningkatkan kapasitas petani pada aspek pengelolaan hutan rakyat. Dengan demikian diharapkan tersedia sejumlah besar ‘Pendekar Penanam Pohon’ yang menerapkan praktik terbaik dalam pengelolaan kayu rakyat, menjual kayu pada harga setara dengan nilai pohonnya dan mengetahui persyaratan mutu yang diminta oleh industri pengolahnya, “ harap Dr. Bambang Tri.

Selanjutnya presentasi dilanjutkan dengan ucapan selamat datang dari Gubernur DIY, yang diwakili oleh Kepala Dinas Kehutanan DIY, Ir, Sutarto, MP. “Saya memandang kegiatan ini strategis, terlebih kaitannya dengan peran Community Based Commercial Forestry (CBCF), sebagai salah satu startegi kunci pengembangan sektor kehutanan di Indoensia. CBCF menduduki posisi penting dalam mekanisme pemeliharaan sumber daya kayu untuk industry pengolahan, serta dalam rangka meningkatkan hasil-hasil ekonomi dan lingkungan dalam koridor lanskap pertanian.

“Karenanya, saya menyambut baik kerjasama penelitian “Overcoming constraints to Community Bases Commercial Forestry in Indonensia” kali ini. Dengan harapan, mampu memberikan masukan bagi perumusan kebijakan sektor kehutanan pada level berikutnya, ” kata Sutarto.

“Dalam kurun waktu 10 sampai dengan 20 tahun ke depan, sektor kehutanan mau tidak mau harus memasuki era Rehabilitasi dan Konservasi. Pada era tersebut, kegiatan pemanfaatan hutan, khususnya kayu dari hutan alam yang selama ini menjadi pendukung penerima devisa, harus dikurangi. Sebaliknya, kegiatan rehabilitasi dan konservais hutan semakin ditingkatkan dalam upaya pemulihan fungsi sumberdaya hutan, “ tegas Sutarto.

Terkait dengan hal tersebut, pemerintah berkepentingan untuk menyelenggarakan pembangunan sumber daya hutan secara lesatri. “Adapun salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah melalui kebijakan pengembangan, penerapan dan pengelolaan hutan, dengan mengoptimalkan keterlibatan aktif dari masyarakat hutan, yakni masyarakat yang hidup dan kehidupannya bergantung pada sumber daya hutan. Tujuannya, tentu saja membangun masyarakat hutan yang sejahtera, yang diukur bukan hanya dari kemajuan fisik dan ekonomi, melainkan juga dari sisi solidaritas sosialnya yang tinggi, “harap Sutarto.

“Dewasa ini, paradigm pembangunan kehutanan di Indonesia telah mengalami pergeseran dari state based forestry ke community based forestry. Dalam implementasi community based forestry, pemberdayaan komunitas tamppil sebagai pelaku dalam pengelolaan hutan. Dalam paradigma ini dipahami bahwa hasil hutan bukan hanya kayu, dan bahwa fungsi hutan bukan hanya untuk menghasilkan devisa. Fungsi hutan sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar mulai diperhatikan dan faedah untuk keseimbangan ekosistem juga diapreasiasi” kata Sutarto.

“Selain itu, melalui CBCF, masyarakat dihargai sebagai pelaku pengelolaan hutan, bukan sebagai pengganggu, parasit ataupun perusak sebagaimana diinterpretasi dalam paradigma state based forestry. Masyarakat diserahi tanggungjawab untuk memelihara, merehabilitasi, sekaligus mengambil manfaat dari hutan. Termasuk turut dikenai tanggungjawab ataupun sanksi, ketika hutan yang dikelolanya mengalami kerusakan, “ tegas Sutarto

Lebih lanjut Sutarto, mengatakan bahwa kaitannya dengan hal tersebut dari dimensi social, CBCF perlu mendorong peningkatan pengetahuan para penyuluh kehutanan, para petani dan masyarakat hutan dalam bidang manajemen pengelolaan dan pemasaran. Sehingga ke depannya masyarakat akan semakin paham akan praktek-praktek pengelolaan hutan yang lebih baik, proses pemasaran, perizinan maupun cara-cara pemecahan masalah dan tantangan yang dihadapi.

Setelah itu, kegiatan rapat tahunan ACIAR dilanjutkan dengan presentasi dari Dr. Eko Bhakti Hardiyanto (UGM) “ Kelaparan kayu: Dapatkah CBCF mengatasi? , Dr. Digby Race (ANU) “Project Overview”, press conference oleh Kepala Badan yang diwakili oleh Kapusprohut, dan Digby Race yang difasilitasi oleh Dr. Dede Rohadi. Selanjutnya secara pararel dilanjutkan dengan presentasi dari tugas 1 tentang Analisis dimensi sosial masyarakat petani hutan rakyat, tugas 2 tentang Kerangka penghidupan dari sektor kehutanan, tugas 3 tentang Analisis rantai nilai kayu rakyat, dan tugas 4 tentang Pendekatan pembelajaran petani sebagaimana terlampir. Pada hari kedua dilanjutkan dengan kegiatan field trip ke TN Gunung Merapi, Lava Tour, HUtan Rakyat Cangkringan, CV. Pendawa Multi Farm, dan PT. Java Furni Lestrai**(PK)

Sumber  :  http://www.forda-mof.org/index.php/berita/post/1813

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>