Tag Archives: wisata sejarah

WISATA SEJARAH BENTENG BELANDA MANDIANGIN

Bagi anda yang suka berwisata sejarah, jangan lewatkan situs sejarah yang ada di Kalimantan Selatan, yaitu Benteng Belanda Mandiangin yang terletak di dalam kawasan wisata Taman hutan Raya (TAHURA) Sultan Adam di daerah Mandiangin Kecamatan Karang Intan Kab. Banjar.  Lokasi wisata ini biasa kita tempuh dari Banjarbaru ± 15 km biasa ditempuh dengan mobil atau sepeda motor.

Benteng Belanda ini dibangun di atas puncak Bukit Besar di tengah hutan rimbun Kalimantan, selama perjalanan menuju puncak kita akan melewati jalan yang berkelok kelok menanjak yang dikiri kanan jalannya disuguhi jurang terjal dan pemandangan yang membuat kita kagum dengan keindahan pemandangan gunung mandiangin sampai terlihat waduk Riam kanan dikejauhan.

Situs pertama yang kita jumpai adalah kolam Belanda dengan airnya yang jernih sehingga sangat segar untuk mandi dan berendam, sebab air kola ini berasal dari mata air bukit besar yang asri

Kemudian kita naik kepuncak bukit melalui jalan aspal berliku dan menanjak, kurang lebih 2 km kita akan sampai di situs tujuan, bangunan bekas peninggalan jaman Belanda ini berada tepat dipuncak bukit besar.

B.J Haga mengunjungi Mandiangin (wijn baden) 26 februari 1939

Situs yang selama ini dianggap Benteng Belanda adalah merupakan tempat peristirahatan atau pesanggrahan para pejabat Belanda pada zaman penjajahan. Pesenggarahan ini diresmikan oleh  Gouverneur van Borneo Dr. Bauke Jan (B.J) Haga pada tanggal 26 Februari 1939.

Mengenai Bentuk bangunan tempat peristirahatan/pesanggrahan didominasi oleh bahan dari kaca meniru bentuk bangunan salah satu rumah sakit yang berada di atas puncak gunung di pulau jawa.

Karena letak tempat peristirahatan/pesanggrahan berada di puncak Bukit Besar yang posisinya lebih tinggi dari tempat-tempat lain yang ada disekitarnya maka tempat peristirahatan/pesanggrahan tersebut juga berfungsi sebagai tempat untuk memonitor pergerakan musuh sekaligus tempat perlindungan/benteng.

Bangunan Benteng Belanda terdiri dari 7 (tujuh) bagian bangunan, terdiri dari : 3 (tiga) buah rumah peristirahatan (huis bahasa Belanda)  yang didalamnya dilengkapi masing-masing kolam/tandon  untuk menampung air hujan, 1 (satu) buah garasi mobil, 1 (satu) buah lapangan tenis (tennisbaan), 1 (satu) buah tempat bermain anak dan 1 (satu) kolam renang.

 

Garasi yang ada di Bukit Besar

Runtuh/rusaknya bangunan tempat peristirahatan/ pesanggrahan tersebut terjadi pada akhir-akhir masa penjajahan Belanda karena pipa-pipa yang berfungsi untuk mengalirkan air dari kolam-kolam  penampungan yang terdapat didalam tempat peristirahatan/pesanggrahan diambil oleh penduduk setempat untuk dijadikan bahan membuat senjata api rakitan untuk melakukan perlawanan pada pihak penjajah Belanda dahulu.

Dengan adanya  bangunan benteng yang sekarang merupakan bukti sejarah adanya pengauasaan pihak asing di banua kita.